Tampilkan postingan dengan label NEGARA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NEGARA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Agustus 2011

3 Negara Dalam Satu Frame FOTO/Gambar (KEREN ABIS GAN)

type='html'>
















Check It Out

Mohon Di Like Dulu
Follow Juga Ya

This post was made using the Auto Blogging Software from WebMagnates.org This line will not appear when posts are made after activating the software to full version.

View the Original article

Minggu, 31 Juli 2011

Menu Buka Puasa di Berbagai Negara

type='html'>

Berbuka puasa tentunya menjadi suatu yang dinanti-nantikan setelah seharian penuh menahan lapar dan dahaga. Dan tentunya ada menu-menu khusus yang akan disantap ketika buka puasa ini dimana menu-menu tersebut tidak akan dijumpai selain ketika bulan Ramadhan saja. Di negara kita yang kaya akan kuliner ini, banyak sekali hidangan-hidangan khas untuk berbuka yang hanya dapat dijumpai ketika bulan puasa. Namun ternyata bukan Indonesia saja yang memiliki tradisi Ramadhan dengan menu khas untuk berbuka puasa. Negara-negara lain juga memiliki berbagai panganan unik untuk disantap ketika berbuka.

Turki
Roti Pide

Güllaç
Umat Muslim di Turki akan menyambut bulan Ramadhan dengan suka cita dan kebahagiaan yang luar biasa dan tentunya juga dengan hidangan berbuka puasa yang khas. Di kota-kota besar seperti Istanbul, semua restoran dan rumah makan akan berlomba-lomba melakukan penawaran khusus bagi menu untuk buka puasa selama bulan Ramadhan. Yaitu satu set menu yang dibuka dengan menghidangkan sup iftariye, roti pide (roti panggang yang khusus hanya dijual selama bulan Ramadhan), pastırma, sujuk, dan berbagai kue-kue yang disebut börek. Hidangan utama terdiri dari berbagai makanan khas dari Turki terutama makanan tradisional Ottoman. Sementara pencuci mulut terkenal yang disebut “güllaç” yang terbuat dari air mawar.

Lebanon
Mezza
Di Lebanon, banyak sekali makanan yang dijumpai ketika berbuka puasa. Menu khas untuk buka puasa yang biasa dijumpai di Lebanon diantaranya mezza, tabbouleh, houmous, dan berbagai macam daging panggang. Menu-menu tersebut tentu akan terasa sangat nikmat setelah seharian menahan lapar dan dahaga.

Yordania
Mansaf
Qatayef
Orang Yordania biasa berbuka dengan mansaf dan qatayef. Mansaf adalah hidangan khas Yordania yang berupa daging domba yang dibumbui dengan rempah-rempah. Sedangkan Qatayef adalah hidangan sejenis pancake dengan kayu manis dan diisi dengan kenari dan gula. Untuk menikmati qatayef, kurang lengkap rasanya jika disantap tanpa ditemani sirup madu.

Mesir
Medames
Umat Muslim di negeri piramida ini biasa berbuka dengan medames. Di samping medames yang menjadi hidangan utama, ada juga menu lainnya yang turut menyemarakkan waktu berbuka seperti molokheya yang dibuat dari ayam dan nasi. Biasa dibilang tiada Ramadhan di Mesir tanpa menu-menu tersebut.

India
Hyderabad Haleem
Populasi umat Muslim di India mencapai lebih dari 130 juta. Hal ini membuat bulan suci Ramadhan menjadi bulan yang ditunggu-tunggu, terutama di daerah-daerah tertentu contohnya Hyderabad. Di kota Hyderabad, menu buka puasa yang banyak dijumpai adalah Hyderabad Haleem. Makanan ini merupakan makanan khas daerah setempat yang mirip dengan bubur gandum tradisional dengan citarasa yang pedas, gurih, dan biasanya disajikan dengan daging domba.

Pakistan
Samosa
Di Pakistan, rasanya kurang sempurna jika berbuka puasa tanpa menu khas yaitu samosa. Samosa adalah makanan khas lezat yang terasa pedas dan berbentuk segitiga. Menariknya, selama bulan Ramadhan, warung-warung yang menjual hidangan samosa ini akan sangat mudah sekali dijumpai di seluruh penjuru Pakistan.

Bangladesh
Rooh Afza
Umat Muslim Bangladesh mempunyai beberapa menu khas yang biasanya disajikan ketika berbuka. Piyaju, beguni, jilapi, muri, halim, tanggal, samosa, dal puri, chola, dan berbagai jenis buah-buahan seperti semangka akan menjadi hidangan berbuka. Sementara minuman seperti rooh afza dengan berbagai cita rasa dan serbet lemon adalah menu berbuka cukup populer di seluruh Bangladesh.

Malaysia
Nasi Lemak
Umat Muslim di Malaysia memiliki kebiasaan yang cukup unik yakni berbuka puasa dengan makanan kering dan kurma segar. Ada berbagai macam makanan khas Malaysia yang tersedia dalam Bazaar Ramadhan (pasar makanan lokal yang buka selama bulan puasa) seperti air tebu, nasi lemak, laksa, percek ayam, nasi ayam, sate dan lain-lain. Walupun sebenarnya makanan tersebut juga dapat dijumpai selain pada bulan Ramadhan, tapi rasanya kurang lengkap berbuka puasa di Malaysia tanpa menu-menu di atas.

Indonesia
Ada puluhan bahkan ratusan jenis kuliner yang biasa disajikan oleh umat Muslim di Indonesia ketika menantikan berbuka puasa. Namun rasanya menu khas berbuka puasa yang satu ini tidak akan pernah terlewatkan. Ya benar, kolak lah menu buka puasa yang paling sering dijumpai saat berbuka puasa di Indonesia. Kolak adalah makanan dengan isi bisa berupa pisang, singkong, ubi atau campuran dari ketiganya dengan kuah yang dibuat dari bahan santan dan gula, ada juga yang menambahkan dengan pacar cina. Selain itu minuman segar lainnya semacam cendol atau dawet juga akrab sebagai menu berbuka.

http://wong168.wordpress.com/2011/07/31/menu-buka-puasa-berbagai-negara/


This post was made using the Auto Blogging Software from WebMagnates.org This line will not appear when posts are made after activating the software to full version.

View the Original article

Tradisi Menyambut Bulan Ramadhan di Berbagai Negara

type='html'>
Berbagai macam cara dilakukan oleh umat Muslim di Indonesia untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Berbagai macam ritual dan tradisi Ramadhan unik pun dilakukan. Diantaranya mandi untuk mensucikan diri, menziarahi makam kerabat serta leluhur sampai tradisi memukul bedug. Namun ternyata bukan hanya Indonesia yang memiliki tradisi menyambut datangnya bulan puasa, beberapa negara lainnya juga memiliki tradisi unik yang hanya berlangsung saat Ramadhan akan tiba.

Jepang
Dalam menyambut datangnya bulan puasa, umat Muslim Jepang akan saling berbagi kebahagiaan dengan saudaranya sesama Muslim. Islamic Centre Jepang misalnya, telah membentuk semacam panitia Ramadhan yang bertugas menyusun kegiatan selama bulan puasa, mulai dari dialog keagamaan, majelis taklim, shalat tarawih berjamaah, penerbitan buku-buku keislaman dan segala hal yang terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa. Panitia juga menerbitkan jadwal puasa dan mendistribusikannya ke rumah-rumah keluarga Muslim maupun ke Masjid-Masjid. Jadwal puasa ini juga dibagikan ke restoran-restoran halal di seantero Jepang. Panitia ini mulai bekerja ketika telah muncul hilal dan berakhir pada saat Idul Fitri. Jika tidak nampak hilal tanda awal puasa dimulai, maka panitia mengikuti ketetapan hilal Malaysia, negara Muslim terdekat.

Mesir

Umat Muslim di Kairo, Mesir memiliki tradisi unik untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Mereka akan memasang lampu tradisional di setiap rumah yang disebut dengan lampu Fanus. Oleh karena itu, banyak warga Kairo yang berbondong-bondong berbelanja lampu saat menjelang bulan Ramadhan tiba. Tradisi semacam ini telah dimulai sejak lama yakni dari zaman Dinasti Fattimiyah. Ketika itu lampu Fanus dipasang untuk menyambut kedatangan pasukan Raja yang datang berkunjung menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Palestina

Selain di Mesir, tradisi menyalakan lampu ketika datang bulan Ramadhan juga dimiliki oleh warga Palestina. Setap bulan Ramadhan tiba, mereka akan memasang lampu Ramadhan ini di masing-masing rumah dan di sepanjang kota.

Nigeria

Berbeda dengan Nigeria, negara Afrika ini memiliki kebiasaan yang berbeda. Mereka akan menyambut datangnya bulan puasa dengan cara berdakwah. Mereka akan pergi secara berombongan ke seluruh pelosok negeri untuk menyiarkan Islam.

Irak

Lain halnya dengan di Baghdad, Irak. Umat Muslim disana akan menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan berbelanja di pasar Shorja (pasar tertua di Irak). Dimana pasar ini hanya ramai ketika datang bulan puasa dan waktu buka pasar hanya dari sore hari sampai menjelang malam. Banyak barang dagangan unik yang dapat dijumpai di pasar ini, diantaranya jajanan untuk menu buka puasa sampai perlengkapan pendukung ibadah lainnya.

Prancis

Di Prancis tepatnya di Couronne, dimana daerah ini banyak didiami oleh imigran asal Arab, juga ada tradisi berbelanja berbagai macam pernak pernik untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dan jalan Pierre Tumbot lah yang paling terkenal ramai yang menjual berbagai macam pernak pernik tersebut.

Italia

Sementara di Roma, Italia, walaupun mayoritas warga kota ini bukanlah umat Muslim, kota ini juga mempunyai tradisi unik menyambut bulan suci Ramadhan. Ketika Ramadhan tiba, banyak panganan khas yang memiliki cita rasa manis serta kurma juga dapat ditemukan dengan mudah. Selain itu di La Grande Mosche (Masjid Agung di Roma) aktifitas menyambut datangnya bulan puasa akan nampak sekali.

Austria

Menjelang bulan suci Ramadhan, umat Muslim di negara kelahiran Alfred Riedl ini biasanya menggelar kampanye pengumpulan paket lebaran untuk keluarga miskin dan hadiah lebaran untuk anak-anak yatim piatu di Palestina. Kampanye ini dikordinir oleh organisasi kemanusiaan Palestina yang ada di Austria. Kampanye yang diberi nama Feeding Fasting Palestinians ini mendapat sambutan positif dari umat Muslim Austria. Mereka berlomba-lomba mengeluarkan sebagian hartanya untuk saudara seiman mereka di Palestina. Untuk menyebarluaskan kampanye bantuan bagi warga Palestina ini, warga Muslim Austria menggunakan berbagai cara, seperti penyebaran poster, pemasangan iklan dan jasa pos. Semua bantuan nantinya akan dikirimkan melalui lembaga-lembaga sosial yang beroperasi di wilayah Palestina.

Albania

Negara lainnya di Eropa yakni Albania juga memiliki tradisi tersendiri guna menyambut datangnya bulan puasa. Setiap datang bulan Ramadhan mereka akan menggelar kesenian yang dinamakan dengan Lodra. Kesenian ini mirip dengan tradisi memukul bedug di Nusantara. Namun yang membedakan, kesenian beduk Lodra Albania ini menggunakan dua buah tabung dimana masing-masing menggunakan kulit kambing dan domba. Pemukulnya sendiri menggunakan dua buah stik yang berbeda sebagai alat pemukulnya sehingga akan menghasilkan dua jenis suara yang berbeda pula. Inilah yang membuat beduk Albania ini khas dibanding beduk di negara kita. Lodra akan dikombinasikan dengan perkusi serta alat tiup lainnya, sehingga Lodra nampak mirip dengan iringan musik marching band. Seniman Lodra terkadang juga diundang khusus untuk mengiring sahur atau biasa disebut dengan Syfyr dan buka puasa atau Iftar.

http://al-teko.blogspot.com/2011/07/tradisi-menyambut-bulan-ramadhan-di.html

This post was made using the Auto Blogging Software from WebMagnates.org This line will not appear when posts are made after activating the software to full version.

View the Original article

Proses Pembuat Telur Palsu Dari Negara China

type='html'>
Di negara tirai bambu,banyak sekali tiru-meniru barang.Mulai dari meniru ponsel buatan luar negri sampai membuat telur palsu.Gawat banget kan?!

Cina memang terkenal sebagai negara peniru barang paling ulung.Berbagai barang elektronik bisa sangat mirip dengan barang aslinya oleh negara Panda ini..

Bagaimana mereka membuat telur palsu?!Hem..ni ada sedikit fotonya:


Sebenarnya yang dibuat palsu hanya kuning telurnya saja.Mereka menggunakan berbagai zat kimia sehingga terlihat asli.


Kuning telur palsu yang telah selesai dibuat dicampur dengan putih telur asli.

Pembuatan telur palsu adalah karena harga telur asli yang sangat mahal.Pembuatan telur palsu sangat murah sehingga para pedagang bisa mendapatkan keuntungan yang berlipat.


Soal rasa,telur palsu sangat mirip dengan yang asli.Oleh karenanya,sangat sulit untuk dibedakan. Menurut para ilmuwan cina,telur palsu yang ditemukan ini sangat berbahaya untuk kesehatan.Konsumsi jangka panjang akan menyebabkan berbagai masalah kesehatan.. Semoga di Indonesia tidak ada telur palsu..[mrcoppas.blogspot.com]


Check It Out

Mohon Di Like Dulu
Follow Juga Ya

This post was made using the Auto Blogging Software from WebMagnates.org This line will not appear when posts are made after activating the software to full version.

View the Original article

Selasa, 19 Juli 2011

Rambut Orang Indonesia Lebih Sensitif Dibanding Negara Lain?

type='html'>

Rambut mungkin sama hitam, tetapi rambut masyarakat Indonesia dibanding dengan negara Asia lain, contohnya China, punya karakteristik berbeda, apalagi jika dibandingkan dengan rambut masyarakat Eropa. Karena itu dibutuhkan penanganan yang berbeda pula. Seperti apa perbedaannya?
Veronique Schwartz, L'Oreal Head of Research and Innovation South East Asia mengungkap, karakteristik rambut manusia di setiap wilayah daerah berbeda-beda. "Rambut penduduk Asia secara umum memiliki karakteristik tebal, bulat (jika dilihat dari potongan melintang), dan lurus," jelas Veronique saat peluncuran sampo terbaru L'Oreal Paris, berjuluk Total Repair 5. Sementara untuk jenis rambut orang Eropa, ciri umumnya adalah tipis, oval (saat dilihat dari potongan melintang), dan bervariasi keriting-lurus.

Ditambahkan Veronique, tipe-tipe rambut di masing-masing wilayah Asia pun banyak yang berbeda. Contohnya, di wilayah China, Filipina, Vietnam, Kamboja, dan sekitarnya, rata-rata memiliki ketebalan menengah dan lurus. Sementara di wilayah sekitar wilayah Malaysia dan Indonesia, memiliki warna rambut yang lebih intens, tipis, dan tingkat keriting level 2 dan 3.

Di presentasi yang dilangsungkan di W Hotel, Seminyak, Bali, Selasa, 26 April 2011 itu Veronique menjelaskan, perbedaan rambut orang Asia juga berbeda dalam hal tingkat kerusakan. Jika dibuat grafik kehalusan hingga kekasaran rambut rusak pada rambut orang Kaukasia dan orang Asia, akan terlihat rambut orang Kaukasia masih lebih halus dan sehat. Artinya, dalam keadaan rusak pun, rambut orang Asia butuh perawatan yang lebih intensif dan lebih khusus.

Bagi wanita Indonesia, menurut penelitian yang dilakukan L'Oreal, terdapat 5 keluhan terhadap rambut yang paling terutama; kasar, kering, rontok, ujung bercabang, dan kusam. Indarto Sutardi, Group Product Manager L'Oreal Paris untuk Hair Category usai konferensi pers peluncuran sampo Total Repair 5 yang dilangsungkan di W Hotel, Seminyak, Bali, mengatakan, "Jika dibandingkan dengan rambut masyarakat Asia lainnya, seharusnya rambut masyarakat Indonesia itu tergolong tebal dan subur. Namun, pada kenyataan, justru Indonesia punya keluhan masalah rambut yang cukup banyak."

Menurut Veronique, rambut orang Indonesia lebih sensitif ketimbang rambut masyarakat dari wilayah lain. Alasannya;
1. Secara genetis memiliki rambut yang tipis.
2. Sering mencuci rambut lebih dari 1 kali dalam sehari.
3. Eksposur sinar matahari yang terus menerus.
4. Kegemaran untuk meluruskan atau pewarnaan rambut.

Tak hanya masalah fisik seperti yang disebutkan di atas, masalah pengetahuan pun turut menyumbangkan efek pada rambut penduduk Indonesia. Dari hasil penelitian L'Oreal yang melibatkan sekitar 300 responden usia 18-50 tahun, hampir 100 persennya mengatakan, hanya mengandalkan shampo untuk perawatan rambut. Hal ini menjadi perhatian tersendiri bagi L'Oreal, karena bagi rambut rusak, penggunaan sampo yang dibarengi kondisioner dan masker adalah hal yang diperlukan. Kurangnya pengetahuan akan hal ini, menurut Indarto menjadi salah satu alasan terutama kerusakan rambut di Indonesia. Penting untuk menggunakan rangkaian perawatan rambut yang tepat dan sesuai dengan karakteristik dan masalah yang dihadapi rambut.



View the Original article

Selasa, 05 Juli 2011

BRAIN DRAIN, MASALAH BESAR BAGI NEGARA BERKEMBANG*

type="html" xml:base="http://artikel.staff.uns.ac.id/2008/12/24/brain-drain-masalah-besar-bagi-negara-berkembang/">

*Oleh : Hariyanto Jurusan EP FE Universitas Sebelas Maret Surakarta

ABSTRAK

Migrasi internasional kini semakin menjadi permasalahan yang menyita perhatian banyak pihak. Transisi pada ilmu pengetahuan berbasis ekonomi menciptakan lebih banyak pangsa pasar yang terintegrasi bagi mereka yang mempunyai bakat dan keahlian yang tinggi. Bakat dan keahlian tersebut menjadi aset yang sangat berharga dalam percaturan ekonomi dunia. Akibatnya, gelombang brain drain dari negara-negara berkembang semakin menguat. Munculnya diaspora yang sangat luas adalah sebuah konsekuensi dari perburuan terhadap kesempatan terbaik bagi negara berkembang.

Paper ini berusaha mengidentifikasi fenomena brain drain yang umumnya terjadi pada negara-negara berkembang. Secara khusus, paper ini akan menguraikan problematika dan tantangan negara berkembang dalam pengembangan SDM dan sarana/fasilitas terkait dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disebabkan oleh brain drain. Pada akhir tulisan, penulis menyuguhkan pola pengembangan SDM dan pengadaan sarana/fasilitas guna mencegah dan mengatasi  timbulnya efek negatif dari brain drain dengan melakukan studi analisa terhadap keberhasilan India dalam mewujudkan reversed brain drain. Sehingga diharapkan dengan terjadinya reversed brain drain, maka pembangunan ekonomi negara berkembang dapat berjalan lancar.
Kata Kunci: Brain drain, Sumber Daya Manusia, Pengembangan Fasilitas, Keberhasilan India.

1. Pendahuluan

Sejarah melukiskan bahwa pasca meletusnya Perang Dunia II telah meyebabkan para tenaga ahli dan terdidik dari berbagai belahan dunia, terutama Eropa, bermigrasi dari satu negara ke negara lainnya. Kemenangan yang diperoleh oleh negara-negara Sekutu membawa para imigran ahli untuk menjadikan negara tersebut sebagai pelabuhan ilmu. Berkisar pada tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, bermigrasinya para tenaga ahli dari negara berkembang seperti ke negara maju semakin meningkat. Hal ini terjadi terutama ke negara-negara yang memberikan banyak keunggulan dan kesempatan (land of opportunity).

Dan akhir-akhir ini semakin banyak profesional (orang-orang berpendidikan tinggi, berbakat dan terlatih) terbaik negara-negara berkembang hijrah atau meninggalkan negaranya yang miskin ke negara-negara maju (negara-negara industri) seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, dan Australia. Mereka itu adalah para ilmuwan, informatisi (ahli ICT), arsitek, insinyur, akademi, dokter, dan para ahli lainnya. Peristiwa ini lebih dikenal dengan istilah brain drain. Dimana peristiwa Brain drain ini merupakan kerugian besar bagi negara yang ditinggalkan.

Brain drain ini hampir sama dengan peristiwa aglomerasi. Aglomerasi adalah keadaan dimana penduduk di suatu negara terpusat di daerah perkotaan, terutama penduduk-penduduk yang berkualitas. Tujuan mereka pindah ke kota adalah karena prospek ekonomi yang menjanjikan. Sama seperti brain drain ini, dimana orang-orang yang pandai akan pindah ke negara maju, dengan tujuan yang salah satunya sama dengan aglomerasi tadi. Sehingga banyak orang-orang pandai terpusat di negara-negara maju. Perbedaanya hanya kalau aglomerasi terjadi hanya di suatu negara, yaitu antar daerah saja. Sedangkan brain drain terjadi di seluruh dunia yang meliputi banyak negara, yaitu baik negara maju maupun negara berkembang.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh UNCTAD, dapat diketahui bahwa dokter, informatisi (ahli ICT), insinyur serta ahli-ahli liannya dari negara-negara miskin setiap tahun terus mengalir ke negara-negara makmur dan maju. Riset ini dilakukan setiap tahun yaitu di 50 negara kurang maju, antara lain 8 negara Asia, 33 negara Afrika, 8 kepulauan dan Haiti. Terlihat bahwa brain drain alias human capital flight dari negara-negara di kawasan itu terus meningkat. Pada 1990 jumlahnya mencapai 16,5%. Dan sekarang jumlah itu meningkat menjadi 21,4%. Jumlah brain drain tertinggi berasal dari Haiti. Negeri itu kehilangan 80% sumber daya manusia berpendidikan tinggi dan terampil.

Di Indonesia, walaupun hingga saat ini belum terdapat data empiris, namun diperkirakan telah mencapai 5%. Jumlah ini dapat kita katakan cukup signifikan di tengah terpuruknya SDM Indonesia yang disertai dengan kecilnya alokasi anggaran pendidikan yang hanya menyisihkan 11,8% dari APBN. Kondisi ini diperparah dengan alokasi anggaran riset dan teknologi yang tidak pernah mencapai angka minimal 1% dari produk domestik bruto. Padahal, menurut analisa UNDP, angka minimum tersebut merupakan anggaran minimum untuk terciptanya kemakmuran suatu bangsa.

Sedangkan menurut Aaron Chaze (2007), yang melakukan penelitian di 61 negara berkembang, dimana sebagian besar para braindrainer memilih bermigrasi ke negara-negara Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), terutama Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Perancis, dan Jerman. Saat ini terdapat sebanyak 50.000 (5%) dokter India yang bekerja di negeri Paman Sam serta ratusan ribu manajer, teknisi, dan ahli komputer bekerja di Microsoft, McKinsey & Company, Citigroup, dan berbagai firma teknologi informasi di kota-kota metropolitan Amerika.

UNDP memperkirakan, India kehilangan sekitar dua miliar dollar AS per tahun akibat migrasi teknisi dan ahli komputer, yang diproyeksikan mencapai 2,2 juta orang sampai akhir tahun 2008 nanti. Beruntung, Indonesia termasuk yang paling rendah, yakni kurang dari 5% dari golongan terdidik yang bermigrasi ke negara-negara maju.

Dari kawasan Afrika, aliran migrasi paling banyak dari Ghana, Kenya, Afrika Selatan, Zimbabwe, Somalia, Nigeria, dan Etiopia, yang sekitar 60% juga berpendidikan tinggi. Bahkan sejak 20 tahun terakhir, Etiopia kehilangan sekitar 75 persen tenaga-tenaga ahli, seperti dosen, insinyur, dan dokter akibat brain drain.

Sungguh ironis, lebih mudah menjumpai dokter asal Etiopia di Chicago ketimbang di Addis Ababa, bahkan sekitar 21.000 dokter asal Nigeria berpraktik di seluruh penjuru Amerika. Lebih menyedihkan lagi, Afrika harus mengeluarkan dana lebih dari empat miliar dollar AS per tahun untuk membayar sekitar 150.000 expatriate profesional yang bekerja di benua miskin itu.

Adapun imigran dari Afrika Utara dan Timur Tengah yang paling banyak berasal dari Maroko (satu juta), Aljazair dan Iran (masing-masing 500.000), serta Mesir, Sudan, Tunisia, Irak, Suriah, Lebanon, Jordania (masing-masing 250.000). Sekali lagi, amat memilukan mengingat mayoritas para imigran itu adalah anak-anak muda terpelajar lulusan universitas.

2. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Terjadinya Brain Drain

Faktor penyebab terjadinya brain drain ini seringkali dilihat dari model bipolar yaitu faktor penarik dan faktor pendorong. Faktor penarik yaitu faktor yang datang dari negeri tujuan, yaitu:

untuk memperoleh prospek ekonomi dan kehidupan yang lebih baik, yaitu gaji yang lebih tinggi, kondisi kerja dan hidup yang lebih baik, dan perspektif karir yang terjamin.fasilitas yang ditawarkan juga sangat kompetitif, seperti fasilitas pendidikan, penelitian, dan teknologi yang lebih memadai, kesempatan memperoleh pengalaman bekerja yang luas.tradisi keilmuan dan budaya yang tinggi.agen di luar negeri yang sering memberikan informasi yang sangat bagus, dan lain sebagainya.

Sedangkan faktor pendorong yaitu faktor yang datang dari negeri asal, yaitu:

biasanya orang-orang pintar ini tidak mau tinggal di negaranya yang masih terbelakang, karena takut tidak bisa mengembangkan ilmu dan keahliannya.dikarenakan rendahnya pendapatan dan fasilitas penelitian.keinginan untuk memperoleh kualifikasi dan pengakuan yang lebih tinggi.ekspektasi karir yang lebih baik, kondisi politik yang tidak menentu.adanya diskriminasi dalam hal penentuan jabatan dan promosi.khusus para dokter yang berasal dari Afrika umumnya ada motivasi lain, yakni menghindari risiko tinggi kemungkinan tertular HIV.ilmu atau pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dan dikuasai ternyata tidak berguna di negara asal, sehingga tidak ada pilihan yang lebih baik selain meninggalkan negaranya.dipengaruhi faktor non ekonomi, misalnya seperti agama dan ras.tidak adanya kenyamanan dalam bekerja dan memperoleh kebebasan, mereka mengalami tekanan politik, menghindari rezim represif yang mengekang kebebasan, serta merasa tak aman akibat perang dan pergolakan politik domestik yang tak kunjung berakhir.tidak adanya penghargaan dari pemerintah, dan lain sebagainya.

Faktor penyebab ‘penarik-pendorong’ ini terkadang juga dapat dibedakan menjadi faktor penyebab obyektif-subyektif. Penyebab secara obyektif adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kebijakan yang diberikan oleh negara asal maupun tujuan dan terkait erat dengan karakteristik negara tersebut, seperti misalnya lemahnya kebijakan terhadap tradisi keilmuan. Sedangkan penyebab secara subyektif biasanya terbatas pada motif-motif personal dari yang bersangkutan.

3. Dampak Peristiwa Brain Drain Bagi Negara Berkembang (Negara Asal)

Kalau kita mendengar kata brain drain, pasti yang terpikir oleh kita adalah sebuah peristiwa yang hanya akan mendatangkan kerugian bagi negara-negara bekembang. Dimana banyak orang-orang pintar dan ahli meninggalkan negaranya itu, yang disebabkan oleh kelemahan-kelemahan yang ada di negara tersebut. Memang telah kita ketahui bersama bahwa peristiwa brain drain ini membawa efek negatif yang sangat besar, terutama bagi negara asal. Namun, ternyata ada juga efek positif yang dihasilkan oleh peristiwa brain drain ini walaupun tidak sebesar efek negatif yang dihasilkan.

Dampak negatif yang timbul :brain drain akan memperlemah struktur ketenagakerjaan, dimana hal ini merupakan faktor utama penghambat industri untuk maju. Sehingga pembangunan ekonomi negeri asal pun tidak berkembang.masalah dari brain drain ini seperti lingkaran setan yang mempertahankan keterbelakangan. Dimana banyak sekali negara yang kekurangan tenaga ahli, namun setelah ada tenaga yang terdidik, mereka malah pergi ke negara lain dengan berbagai alasan.semakin lebarnya jurang antara si miskin dan si kaya.brain drain memboroskan bahkan menguras uang negara asal. Banyak sekali orang-orang pintar yang dibiayai oleh negara untuk belajar ke luar negeri agar menjadi lebih ahli. Namun setelah selesai masa pendidikannya, mereka malah tidak mau kembali. Mereka diberi fasilitas oleh negara tetapi tidak mau balas budi, mereka lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri dan malah memberikan sumbangan keahliannya dalam mempertinggi pertumbuhan ekonomi negara-negara yang sudah maju. Contohnya, di Indonesia dalam 13 tahun belakangan, di UGM ada 50 orang dosen dan peneliti mengundurkan diri. Universitas jelas rugi, karena mencetak satu doktor saja butuh sekurang-kurangnya satu miliar rupiah. Padahal ada seratusan cendekiawan yang hijrah ke manca dan terbanyak di Malaysia.brain drain berarti kerugian besar pada modal sumber daya manusia. Apalagi umumnya yang diterima di luar negeri merupakan sumberdaya berkualitas. Sementara keuntungan dari brain drain berpendidikan tinggi bagi negara yang ditinggalkan sangat terbatas. Walaupun menikmati gaji tinggi, mereka umumnya minim sekali mengirim uang ke negeri asalnya dibandingkan emigran berpendidikan rendah. Ikatan mereka dengan negeri asalnya juga mengendur, karena secara umum mereka tinggal menetap (settled) di negeri baru mereka.orang-orang terbaik yang hijrah ke luar negeri pasti akan digantikan oleh para ekspatriat (dengan kemampuan yang sama) yang umumnya minta bayaran berkali lipat lebih mahal. Yang terjadi selanjutnya adalah proses inefisiensi perekonomian dalam negeri.terjadinya brain drain bagi negara asal tentunya membawa implikasi negatif yang tidak sedikit, seperti kondisi di mana kurangnya tenaga terlatih dan terdidik dari suatu negara, serta terjadinya ketidakseimbangan pertumbuhan ekonomi yang sulit untuk diprediksi. Selain itu, brain drain dapat juga membawa pengaruh rendahnya kesejahteraan terhadap lingkungan, di mana para tenaga terdidik tersebut berasal.Dampak positif  yang timbul:

Beberapa negara berkembang kini telah mampu memanfaatkan kondisi brain drain menjadi reversed brain drain untuk kemajuan negaranya, misalnya Cina dan India, dua “macan Asia” yang mempunyai konsentrasi brain drain sangat tinggi. Brain drain juga memiliki beberapa dampak positif yang dapat meningkat pertumbuhan ekonomi negara:

Alternative sumber investasiPenurunan tingkat unemploymentOptimalisasi kapasitas produksi NegaraPeningkatan kualitas SDMUptodate perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologiInternational networking. Misalnya: beberapa hasil komoditas pertanian unggulan lokal seringkali kalah bersaing dengan negara-negara lain. Produk seni dengan nilai tinggi seperti kerajinan dan seni ukir pun belum bisa berjaya di pangsa pasar negara lain. Padahal, tingkat kemakmuran ekonomi wilayah sangat bergantung kepada pendapatan dari luar melalui sektor basis (Tarigan, 2006), termasuk ekspor. Terhambatnya aliran informasi dari negara terkait dengan pangsa pasar di luar negara adalah salah satu penyebabnya. Sehingga salah satu upaya dalam memperbaiki kondisi ini adalah dengan diperkuatnya jaringan networking pengusaha Indonesia yang berada di luar negeri. Melalui jaringan ini, informasi aktif kepada wilayah terkait mengenai a) pangsa pasar, b) unsur sosial-kebudayaan dan c) aspek legal dalam pengembangan usaha di negera tersebut, dapat membantu potensi sektor basis wilayah terkait untuk dapat memasarkan produk-produknya secara optimal.

Kondisi reversed brain drain yang terjadi sejak awal 1990-an tersebut, selain memacu produktivitas perekonomian negara asal, diyakini juga telah meninggalkan buah manis berupa jaringan keilmuan dan pemasaran yang kuat dan tersebar hampir di seluruh negara-negara maju yang pernah mereka huni sebelumnya. Dengan kehadiran para braindrainer, peningkatan produktivitas terbukti meledak-ledak, peluang bisnis baru terus menyeruak, kepuasan kerja meningkat, demikian pula ilmu pengetahuan melaju lebih cepat. Artinya, semakin banyak perusahaan atau negara bersaing mendapatkan orang-orang bertalenta, semakin bagus peluang para jenius itu mengaktualisasikan potensi mereka demi membangun dunia yang lebih berkualitas.

4. Belajar Dari India Yang Telah Berhasil Menaklukan Masalah Brain Drain

Wabah brain drain telah menyerang India selama lebih dari 30 tahun yang lalu. India secara rutin merupakan negara pengekspor tenaga muda yang terampil ke negara-negara maju. Dimulai pada awal tahun 1960-an, lulusan terbaik dari beberapa Indian Institute of Technology (IITs) meninggalkan India dalam jumlah yang cukup besar untuk kemudian bekerja pada Silicon Valley, Amerika Serikat. Tidak jauh berbeda, penduduk India juga bermigrasi secara tradisional ke Inggris dan Kanada. Awal tahun 1970-an, jumlah warga India yang bermigrasi ke Amerika memiliki besaran yang sama dengan mereka yang bermigrasi ke Inggris dan Kanada. Namun pada awal tahun 1990, jumlah penduduk India yang bermigrasi ke Amerika telah meningkat hampir dua kali lipat dari mereka yang pergi ke kedua negara tersebut di atas. Saat ini, komunitas India di Amerika, baik imigran maupun mereka yang terlahir di sana, merupakan komunitas dengan proposi cukup besar sehingga dianggap mewakili populasi asal Asia. Kini para profesional asal India tersebut telah menguasai sedikitnya 8.000 perusahaan di bidang komunikasi, informasi dan teknologi di kawasan Silicon Valley dengan pemasukan sebesar US$ 4 miliar ditambah dengan penyediaan lapangan kerja sebanyak 17.000 kursi.

Namun kini, fenomena brain drain di India telah berangsur sirna dan berubah menjadi reversed brain drain. Sejak akhir tahun 1990-an, para ilmuwan dan profesional India yang telah menetap di luar negeri mulai kembali ke tanah airnya. Kesempatan itu dilakukan pada masa cuti panjang ataupun di tengah masa penelitiannya dengan cara mengajar di India dan berinteraksi secara langsung dengan sesama peneliti di negara asal. Hal ini terjadi hampir di berbagai bidang pegetahuan, khususnya IT, kedokteran, dan ekonomi. Saat ini, sedikitnya terdapat sekitar seratus ribu warga negara India yang sebelumnya bekerja di luar negeri telah kembali ke negaranya secara permanen, di mana 32.000 di antaranya merupakan non-resident Indian (NRI) yang berasal dari Inggris. Hasilnya, brain drain yang dirasakan merugikan India mulai menjelma menjadi brain circulation yang membawa keuntungan secara mutual bagi India dan negara tujuan. Dalam konteks ini, Bindo Khadria menyebutnya sebagai second-generation effects of brain drain.

Terhadap kondisi tersebut di atas, Pan Mohamad Faiz menganalisa adanya beberapa faktor yang menjadi penyebab utama terciptanya pola reversed brain drain di India, yaitu: Pertama, terjadinya tansisi kebijakan pemerintah India secara gradual dari pola kontrol ekonomi sosialis melalui sebuah proses liberalisasi yang dimulai pada awal tahun 1990-an telah menciptakan tidak hanya tersedianya berbagai lapangan kerja baru di bidang manufaktur dan teknologi, tetapi juga meningkatnya reputasi berbagai lembaga tinggi pendidikan di bidang IT dan manajemen. Di samping itu, pengelolaan institusi-institusi swasta tidak lagi dipersulit oleh campur tangan pemerintah yang selama ini dirasa cukup dominan.

Kedua, terjadinya reversed brain drain di India disebabkan pula akibat melemahnya kondisi perekonomian di Amerika Serikat sendiri. Kondisi tersebut menyebabkan banyaknya perusahaan yang menutup aktivitasnya, termasuk memutuskan hubungan kerja dengan para tenaga ahlinya. Guna mengatasi masalah ini, Amerika mulai mengeluarkan kebijakan outsourcing dengan mencari tenaga-tenaga ahli yang lebih murah namun mempunyai kemampuan yang tinggi, salah satunya dengan memanfaatkan pengeluaran visa H-1B. Kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh para profesional dan pebisnis asal India. Mereka berduyun-duyun kembali ke negaranya sebagai fasilitator antara tenaga ahli yang berada di India dengan jaringan pasar internasional. Booming besar berikutnya terjadi ketika India menciptakan kota-kota IT yang diberi nama Indian Silicon Valley yang berpusat di Bangalore, di mana perusahan-perusahaan sekelas Hawlett-Packard, IBM, dan Microsoft mulai membuka laboratorium riset secara khusus di wilayah tersebut. Hasilnya yaitu penciptaan kekuataan baru para pekerja transnasional di berbagai sektor ekonomi, penguatan infrastruktur fisik dan sosial di Bangalore dan sekitarnya, serta penempaan dan penguatan hubungan transnasional antara India dan Amerika Serikat.

Ketiga, kesuksesan India menarik kembali para ilmuwannya tidak terlepas dari jaringan diaspora yang selama ini dapat terus mereka pertahankan, baik diaspora yang bersifat keilmuan maupun diaspora yang bersifat komunitas kemasyarakatan. Beberapa diaspora keilmuan utama yang mereka miliki misalnya, Silicon Valley Indian Professional Association (SIPA), Worldwide Indian Network, The International Association of Scientists and Engineers and Technologist of Bharatiya Origin, dan Interface for Non Resident Indian Scientists and Technologist Programme (INRIST). Dari sinilah mereka memperoleh sumber potensi yang sangat besar dalam menjalankan kerjasama secara efektif dan menguntungkan kedua belah pihak antara negara India sebagai negara berkembang dengan berbagai negara industri maju lainnya.

Keuntungan dari terjadinya reversed brain drain tersebut, terhitung dalam lima belas tahun terakhir ini, industri teknologi India mulai berkembang menjadi teknologi kualitas tinggi dengan pertumbuhan dari US$ 150 juta menjadi US$ 3,9 miliar dalam hal penjualan. India saat ini juga telah mengekspor produksi piranti lunak ke hampir 100 negara di dunia, termasuk Amerika Serikat dan negara-negara di benua Eropa. Meningkatnya ikatan rasa emosional dan budaya terhadap tanah kelahiran India menjadi modal tambahan meluasnya kesempatan bagi para profesional India. Begitu pula dengan kesempatan bekerja di dalam negeri yang tidak kalah bersaing dengan perusahan-perusahaan terkenal lainnya di luar negeri. Sebagai contoh, salah satu tamatan terbaik Indian Institute of Management (IIM) di Bangalore memperoleh tawaran kerja dari Barclays Capital dengan gaji sekitar US$ 193.000 per tahun, atau lulusan Indian School of Business (SIB) di Hyderabad biasanya memperoleh tawaran kerja dari perusahaan India dengan gaji rata-rata sekitar US$ 200.000 per tahun. Belum lagi tawaran-tawaran dari perusahan besar seperti Goldman Sachs, BNP Paribas, Merrill Lynch, Lehman Brothers, Deutsche Bank, J.P. Morgan, McKinsey, Bain & Co. Boston Consulting Group, A.T. Kearney and Diamond Cluster, serta sederet perusahaan berkelas lainnya.

Beberapa tahun terakhir ini, India bukan saja mengalami reversed brain drain, akan tetapi kini mereka diuntungkan dengan terciptanya brain gain dari negara-negara lainnya. Meledaknya perekonomian India memicu sedikitnya puluhan tenaga ahli dari negara-negara Eropa, seperti Swedia, Norwegia, Perancis, Jerman, Swiss dan Inggris untuk berkerja pada industri teknologi di kawasan industri Okhla, New Delhi, India. Lebih dari itu, survey yang dilakukan di Inggris pada tahun 2005 menyimpulkan bahwa para lulusan Inggris tengah mempersiapkan dirinya untuk mengisi 16.000 lowongan pekerjaan pada Indian call-center di tahun 2009 mendatang. Bahkan dalam laporan tersebut disampaikan bahwa seorang lulusan sarjana dari Skotlandia rela untuk melepaskan pekerjaannya dari Sky Television dengan gaji £21.000 per tahun untuk kemudian bekerja pada Indian call-center.

Terjadinya reversed brain drain di India tidak dapat dipisahkan dari peran dan keuntungan yang diperoleh dari adanya diaspora India. Diaspora ini tersebar ke berbagai belahan dunia sebagai silent networking. Sekitar 20 juta orang yang tergabung dalam komunitas elektik ini tumbuh dan berkembang sebesar 10% setiap tahunnya, sehingga menempatkan komunitas ini sebagai diaspora terbesar di dunia setelah Cina dan Inggris. Setidaknya terdapat lebih puluhan ribu warga negara India yang menempati 48 negara di seluruh dunia. Meskipun mendiami negara dan bahasa yang berbeda-beda, diaspora India mempunyai identitas yang sama dengan negara asalnya, yaitu suatu kesadaran akan warisan kebudayaan dan ikatan emosional yang sangat kuat terhadap garis keluarga dan negara asalnya. Dalam dua dekade terakhir, diaspora India telah mengalami perubahan, yaitu dari para imigran biasa menjadi pemegang peranan kunci pada posisi penting di bidang politik, lembaga universitas, dan sektor industri. Mereka menempati pos-pos penting sebagai pemimpin terpilih, politisi, profesor, dan status profesional lainnya. Beberapa contoh terbaiknya yaitu Bharrat Jagdeo, Presiden Guayana yang beraliran sosialis; anggota Kongres di Amerika Serikat; anggota parlemen di Kanada; serta penerima Nobel Ekonomi, Amartya Sen.

Terhadap gambaran di atas, dalam lingkup diaspora India, migrasi warga India kini tidak lagi menyebabkan terjadinya brain drain melainkan justru menjadi elemen awal terciptanya brain gain. Selain itu, anggota dari diaspora India yang tergabung dalam NRI dan PIO juga telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan dan perkembangan di India. Diaspora India juga merupakan komunitas yang berharga dalam memberikan kontribusi terhadap meningkatnya hubungan India-Amerika, sehingga hal tersebut menghasilkan keuntungan ganda bagi negaranya. Dengan terbuktinya keunggulan dari jaringan diaspora terhadap pertumbuhan dan perkembangan negara India, fenomena mengenai brain drain dan migrasinya tenaga ahli telah berubah menjadi mantra brain gain. Oleh karenanya, diaspora semacam ini patut menjadi perhatian khusus bagi kita semua, terutama mengenai kuatnya keterikatan mereka dengan keluarga dan negara asalnya. (Pan Mohamad Faiz: KIPI 2007)

5. Kesimpulan

Tingginya laju arus tenaga ahli dari negara berkembang ke negara-negara yang lebih maju (brain drain) menjadi salah satu alasan yang menunjukkan lemah dan kurang tepatnya strategi kebijakan dan pandangan dalam menumbuhkan khasanah ilmu pengetahuan dan teknologi secara adil dan memadai serta kebijakan-kebijakan yang kurang mendukung para tenaga ahli.

Dengan adanya dampak-dampak negatif serta adanya faktor-faktor pendorong dan penarik dari peristiwa brain drain di atas, maka perlu adanya usaha-usaha yang dilakukan negara-negara berkembang untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sehingga arus brain drain diharapkan dapat ditekan seminimum mungkin. Banyak sekali cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah brain drain, di atas kita telah melihat sebuah negara yaitu India yang telah mampu mengubah brain drain menjadi brain gain. Selain hal-hal di atas yang diterapkan oleh India, masih banyak lagi hal-hal yang bisa dilakukan oleh negara-negara berkembang agar arus brain drain dapat diatasi. Sehingga negara asal tidak akan dirugikan terus.

Untuk itu, guna memperoleh pergerakan asimetris arus dan distribusi tenaga ahli secara global, negara-negara berkembang harus berani dan kreatif dalam mengimplentasikan strategi yang didukung secara penuh oleh kebijakan dalam negeri. Cara-cara ataupun usaha-usaha yang bisa dilakukan antara lain:

upah/gaji disamakan, tidak ada diskriminasi. Yaitu dengan membangun sistem remunerasi yang fair. Contoh paling sederhana dan konkret, untuk posisi tertentu dengan tugas dan tanggung jawab yang tertentu pula, tak perlu lagi dibeda-bedakan antara gaji (profesional lokal) dengan gaji ekspatriat yang biasanya dibayar jauh lebih mahal. Karena dengan sistem remunerasi yang baik, menurut berbagai penelitian, juga terbukti mampu mendorong semangat kerja, memacu produktivitas, serta melecut kreativitas karyawan di semua level organisasi.Sistem pendidikan ditingkatkan. Yaitu dengan menyediakan kesempatan pendidikan berkelas dunia (dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi harus mampu bersaing dengan pendidikan negara-negara luar yang sudah maju), membangun penelitian ilmu pengetahuan dan pengembangan industri. Selian itu, juga mengimplentasikan rancang-bangun pendidikan yang dapat mendukung dan memelihara pengembangan inti ilmu pengetahuan melalui program dalam negeri dan pelatihan luar negeri yang lebih terarah dan terencana. Pemenuhan target program pendidikan dasar bagi seluruh warga negara, investasi pada infrastruktur untuk penelitian, pengembangan dan penciptaan kondisi yang dapat menunjang tumbuhnya sektor publik maupun swasta dalam lingkup hasil penelitian, serta pengembangan teknologi dan inovasi merupakan beberapa strategi yang dapat dilakukan dalam kondisi sekarang ini. Oleh sebab itu, guna mewujudkan langkah-langkah strategis di atas, kerjasama antara pemerintah dengan sektor swasta harus pula dijalankan secara optimal. Beberapa negara besar telah berhasil menunjukkan bahwa diaspora ilmu pengetahuan (scientific diaspora) dapat bekerja sangat efektif, terutama untuk memanfaatkan efek negatif dari terciptanya arus brain drain. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, India dapat menjadi gambaran bagi negara berkembang bahwa upaya dalam melakukan penelitian dalam negeri sangat ditopang dan dibantu dengan adanya aktivitas jaringan sejagat (global network) dari para peneliti yang tinggal di luar negeri. Oleh karena itu, diaspora negara berkembang yang telah ada harus pula didukung agar mampu melakukan transfer pengetahuan dan teknologi (knowledge and technology transfer) secara bertahap.Kesiapan pemerintah menampung mereka di segala bidang. Yaitu dengan menyiapkan sarana dan prasarana serta fasilitas yang sangat dibutuhkan oleh para tenaga ahli. Pemerintah harus menyediakan kesempatan kerja di segala bidang, sehingga ilmu dan keterampilan yang mereka dapatkan bisa diimplementasikan di negaranya sendiri dan tidak sia-sia. Sehingga mereka tidak akan berpikir untuk lari ke luar negeri.Pemerintah harus mengadakan perjanjian dengan para braindrainer. Misalnya di Singapura, para braindrainer diwajibkan bekerja minimal 2 - 3 tahun di negara tujuan, setelah itu mereka harus kembali ke negara asal untuk menerapkan ilmu dan keterampilan yang telah diperoleh di negara tujuan. Di Kuba, adanya subsidi belajar ke luar negeri bagi mereka yang pandai dan berminat, namun setelah selesai/lulus mereka harus kembalidan mempraktekan ilmunya di dalam negeri. Dan di indonesia, adanya denda pengembalian uang beasiswa jika dalam waktu yang ditentukan mereka tidak kembali ke Indonesia.dalam bidang investasi, untuk menciptakan ekonomi yang mandiri dengan memperkenalkan konsep ‘Investor Amfibi’ yang banyak meminjam dasar-dasar ilmu Teknologi Informasi, dimana kegiatan investasi di negara berkembang dapat dijalankan oleh para alumninya hasil pendidikan luar negeri secara remote (jarak jauh), mobile (berpindah-pindah tempat), dan adaptable (mudah beradaptasi), sekaligus menghimbau kepada mereka yang sudah memilih berkiprah di luar untuk tidak ragu-ragu dengan pilihannya sembari terus mengabdi bagi negeri. Serta dibahas pula mengenai peluang, resiko dan tantangan bagi calon investor jarak jauh yang ingin menanamkan modalnya di negara asal, dan pemikiran tentang bagaimana investasi hasil pendanaan luar negeri tersebut dapat memberikan manfaat domino effect bagi sumber-sumber daya lainnya di negara asal dan memacu percepatan perputaran roda ekonomi mandiri secara keseluruhan, yang kesemuanya dilakukan secara kompak dan berkesinambungan oleh insan-insan bangsa baik yang di dalam maupun yang di luar negeri. (Dipto Harendra Pratyaksa: KIPI 2007)Pemerintah negara asal harus memberikan penghargaan yang sesuai dengan kualitas yang dimiliki oleh para braindrainer.Memperbolehkan sebagian orang-orang berkualitasnya untuk hijrah ke negara lain, namun ada perjanjian dengan mereka. Yaitu mereka di sana diberi tugas mencari iformasi-informasi tentang perkembangan perkonomian, dunia usaha, dan sosial budaya yang berkembang disana. Sehingga negara asal dapat mengikuti perkembangan yang ada, dan akhirnya diharapkan mampu bersaing dengan negara-negara luar yang sudah maju.

Dengan upaya-upaya maupun usaha-usaha di atas, apabila berhasil dan sukses diterapkan/dilaksanakan, maka diharapkan dapat menciptakan sebuah reversed brain drain. Dimana dengan terciptanya reversed brain drain ini akan dapat memacu produktifitas perekonomian negara asal, serata juga dapat memperluas jaringan perekonomian dengan para braindrainer sebagai penghubung antara negara maju dan negara berkembang (negara asal). Dengan ini maka dampak positif akan tercipta, seperti yang telah dijelaskan di atas. Sehingga pembangunan nasional negara asal dapat tercapai sesuai yang diharapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Jurnal :

Badrawani, Wishnu. 2007. Brain Drain Hari Ini, Mungkin Cikal Bakal Brain Gain di Hari Esok. Makalah Disampaikan Pada Konferensi International Pelajar Indonesia (Kipi) 2007 Sydney, Australia - 9 September 2007.

Faiz, Pan Mohamad. 2007. Brain Drain Dan Sumber Daya Manusia Indonesia: Studi Analisa Terhadap Reversed Brain Drain Di India. Makalah Disampaikan Pada Konferensi International Pelajar Indonesia (Kipi) 2007 Sydney, Australia - 9 September 2007.

Ivannanto, Ananda Setiyo & Pratama , Anindita Aji. 2007. Penguatan network Pengusaha Indonesia antar negara guna memasarkan komoditas unggulan daerah ke negara lain. Makalah Disampaikan Pada Konferensi International Pelajar Indonesia (Kipi) 2007 Sydney, Australia - 9 September 2007.

Molasy, Honest Dody. 2007. Pragmatisme vs Nasionalisme. Makalah Disampaikan Pada Konferensi International Pelajar Indonesia (Kipi) 2007 Sydney, Australia - 9 September 2007.

Pratyaksa, Dipto Harendra. 2007. Investor Amfibi: Bekerja Keras di Luar Negeri untuk Membangun Investasi Mandiri di Indonesia. Makalah Disampaikan Pada Konferensi International Pelajar Indonesia (Kipi) 2007 Sydney, Australia - 9 September 2007.

Saputra, Dedy. 2007. Peran Lulusan Pendidikan Luar Negeri dalam Pembangunan Iptek Nasional. Makalah Disampaikan Pada Konferensi International Pelajar Indonesia (Kipi) 2007 Sydney, Australia - 9 September 2007.

Sarosa, Wijayono. 2007. Braindrain di Sektor Pertambangan dan Energi. Makalah Disampaikan Pada Konferensi International Pelajar Indonesia (Kipi) 2007 Sydney, Australia - 9 September 2007.

Buku :

Krugman, Paul R and Obstfeld, Maurice. 1991. Ekonomi Internasional: Teori Dan Kebijakan. Rajawali Pers: Jakarta.

Kuncoro, Mudrajad. 2001. Analisis Spasial Dan Regional: Studi Aglomerasi Dan Kluster Industri Indonesia. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.

Nopirin, Ph.D. 1995. Ekonomi Internasional. Yogyakarta: BPFE.

Tjiptoherijanto, Prijono. dkk. 1982. Sumber Daya Manusia, Kesempatan Kerja Dan Pembangunan Ekonomi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Todaro, Michael P. 1994. Pembangunan Ekonomi Di Dunia Ketiga. Jakarta: Erlangga.

Artikel :

Alhumami, Amich. 2007. Membendung “Brain Drain”. KOMPAS: Kamis, 04 Oktober 2007.

Djatmiko, Harmanto Edy. Awas, Arus Brain Drain Makin Deras! Swamajalah. 15 Februari 2007.

Dr. Is Helianti, MSc. Monday, 01 August 2005. Brain Drain. Peneliti pada Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Bioindustri, BPPT.

Effendi, Suchjar, dkk. Desember 2006. Braingain Untuk Memperkuat Otonomi Daerah. Bogor. WUS Komite Indonesia.

Santosa, Eddi. Laporan Dari Den Haag: Brain Drain Ke Negara Maju Terus Meningkat. Detikcom. 20 Juli 2007.

]]>

View the Original article
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls