Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tradisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Juli 2011

Tradisi Membangunkan Sahur Di Indonesia

type='html'>
Tradisi untuk membangunkan orang agar bangun untuk makan sahur memang sudah cukup memasyarakat di sejumlah daerah di Indonesia. Istilah-istilah yang digunakan untuk menyebut tradisi ini pun sangat bermacam dan berbeda-beda di setiap daerah. Misalnya, di daerah Pantura warganya menyebut tradisi ini dengan istilah Komprekan, Cirebon menyebutnya dengan Obrok-burok, Tektekan di Jawa Timur dan di Semarang disebut dengan Dekdukan. Tidak hanya di pulau Jawa, di luar Jawa juga terdapat tradisi seperti ini, di daerah Gorontalo misalnya terdapat tradisi serupa yang disebut Tumbilotohe. Namun apapun namanya, semua tradisi ini memiliki satu kesamaan yakni bertujuan membangunkan masyarakat agar tidak sampai melewatkan sahur. Berikut beberapa tradisi membangunkan sahurlainnya yang berhasil dikumpulkan Berbagi Berbagai Hal.

Ngarak Bedug atau Beduk Saur (Jakarta)

Tradisi membangunkan orang untuk sahur juga dilakukan warga ibu kota. Hanya saja, tiap wilayah menyebut tradisi ini dengan nama yang berbeda. Untuk masyarakat Betawi Joglo, Palmerah, Rawabelong, Condet, Buncit hingga ke daerah Tangerang menyebutnya dengan Ngarak Beduk. Sedangkan warga betawi yang bermukim di daerah timur Jakarta, seperti Bekasi sering menyebutnya dengan Beduk Saur.

Tradisi Ngarak Beduk atau Beduk Saur telah dilakukan sejak ratusan tahun yang lalu oleh masyarakat Betawi. Konon, kota Jakarta pada masa itu masih banyak berupa wilayah hutan. Sehingga untuk membangunkan orang sahur, orang-orang Betawi pada masa itu mengandalkan suara beduk, begitu juga untuk menandakan waktu imsyak dan berbuka puasa.

Kemudian, saat budaya masyarakat Betawi terpengaruh budaya Tionghoa, tradisi membangunkan sahur dilakukan dengan menggunakan petasan. Suaranya yang nyaring dan membuat kaget orang, menjadi alasan mengapa petasan digunakan untuk membangunkan sahur. Maklum saja, kala itu petasan memang menjadi alat komunikasi yang efektik. Hal ini terbukti dengan penggunaan petasan dalam acara-acara pernikahan dan kegiatan lainnya.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, yakni memasuki abad ke 19, tradisi untuk membangunkan sahur mulai menggunakan peralatan yang lebih modern dan tidak lagi menggunakan petasan. Mereka mulai menggunakan alat musik tradisional, seperti kentungan, rebana dan genjring yang dipadukan dengan suara beduk. Suara dari alat musik ini diperindah dengan pembacaan puisi atau lagu-lagu Betawi.

Biasanya dalam tradisi ini jumlah pesertanya dapat mencapai puluhan orang. Diantara mereka mendapatkan tugas masing-masing. 2 orang yang mengarak beduk yang dibawa menggunakan gerobak, 1 orang menarik gerobak dan satunya memukul beduk. Ada yang kebagian membawa kentongan bambu, membawa rabana hingga membawa genjring. Sebagian yang lain berteriak membangunkan orang dan bernyanyi lagu Betawi.Tak jarang kesenian Ondel-ondel juga terlibat didalamnya. Bahkan pada masa itu, tradisi Ngarak Beduk sering di perlombakan antar kampung. Namun sayang kini tradisi ini mulai luntur dan tidak diminati lagi.

Ubrug-Ubrug (Kuningan)

Seni ubrug-ubrug di sebelah timur kota Kuningan untuk membangunkan sahur sudah ada sejak tahun 1970. Setiap menjelang puasa, sekelompok pemuda akan membentuk tim terdiri dari 10 orang yang masing-masing 5 orang membawa genjring, 2 orang membawa kohkol (kentongan bambu), 1 penabuh bedug, dan 2 lainnya mendorong gerobak bedug.

Jika didengarkan, perpaduan suara genjring, bedug dan kohkol menjadi satu alunan musik tradisonal yang berbeda dari musik lainnya. Meskipun tidak menggunakan pengeras suara, teriakan yang membangunkan orang untuk sahur tetap lantang terdengar sehingga masyarakat pun dapat dibangunkan untuk santap sahur.

Percalan (Salatiga)

Pada bulan puasa, anak-anak dan para pemuda tidak akan tidur di rumah, melainkan di Mushola. Pada sekitar jam 2 malam mereka akan bangun, kemudian membawa tetabuhan seperti kentongan bambu, besi bekas, bedug, ember bekas, yang kemudian akan dipukul dengan memadukan irama yang enak di dengar. Selanjutnya mereka akan berkeliling kampung dan membangunkan para warga supaya bangun untuk melaksanakan makan sahur. Tradisi ini disebut dengan percalan. Tradisi ini telah dilaksanakan dari puluhan tahun yang lalu dan dilestarikan sampai sekarang oleh masyarakat di Salatiga.

Bagarakan Sahur (Kalimantan Selatan)

Bagarakan sahur merupakan aktivitas sekelompok pemuda Kalimantan Selatan yang bangun di tengah malam selama bulan puasa dengan tujuan membangunkan umat Muslim untuk makan sahur. Tidak ada catatan yang menyebutkan awal mula dilakukannya bagarakan ini. Namun tradisi bagarakan sahur ini sudah sejak lama berlangsung secara turun temurun.

Sebenarnya tradisi bagarakan sahur ini, tidak jauh berbeda dengan aktivitas pemuda di daerah lain di Nusantara, pada malam bulan Ramadhan. Biasanya di daerah hulu sungai di Kalimantan Selatan, para pemuda menggunakan perlengkapan berupa alat musik, seperti babun, agung, dan seruling. Untuk daerah Barabai, ada juga yang melakukan bagarakan sahur ini menggunakan gerobak, yang ditarik oleh seekor sapi. Kemudian mereka berkeliling kampung memainkan berbagai peralatan yang dibawanya untuk membangunkan masyarakat.

Dengo-Dengo (Sulawesi Tengah)

Masyarakat Kota Bungku, Morowali, Sulawesi Tengah, memiliki tradisi yang mereka sebut dengan dengo-dengo yang berfungsi untuk membangunkan umat Muslim untuk melaksanakan Sahur. Dengo-dengo sendiri dalam bahasa Indonesia berarti tempat beristirahat. Dengo-dengo merupakan sebuah bangunan yang menjulang setinggi hampir 15 meter. Terbuat dari batang bambu sebagai tiang penyangga, menggunakan lantai papan dengan ukuran 3x3 meter persegi dan beratap daun sagu didirikan dengan cara gotong royong oleh warga menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Dengo-dengo sudah hadir di Bungku sejak awal masuknya Islam sekitar abad ke-17 untuk menyerukan kepada warga agar bangun saat sahur dini hari. Bangunan ini juga dilengkapi dengan sebuah gong, gendang, dan rebana serta ditunggui sekitar delapan orang warga. Hampir setiap rukun tetangga (RT) memiliki sebuah dengo-dengo. Pada saat menjelang waktu Sahur, para penjaga dengo-dengo itu menabuh gong dan gendang serta rebana sehingga warga akan terbangun dari tidurnya untuk melaksanakan Sahur.

Pada petang hari, dengo-dengo berfungsi sebagai tempat beristirahat menanti waktu berbuka puasa. Itu sebabnya, dengo-dengo ini selalu ramai dengan kunjungan warga. Sementara untuk membangunkan warga yang akan melaksakan ibadah puasa pada dini hari, sejumlah warga, umumnya para pemuda mulai berkumpul di dengo-dengo sekitar pukul 01.30 waktu setempat. Hampir di setiap sudut jalan berdiri bangunan tinggi yang akan di bongkar usai Ramadhan ini.

http://al-teko.blogspot.com/2011/07/tradisi-membangunkan-sahur-di-indonesia.html

This post was made using the Auto Blogging Software from WebMagnates.org This line will not appear when posts are made after activating the software to full version.

View the Original article

Tradisi Menyambut Bulan Ramadhan di Berbagai Negara

type='html'>
Berbagai macam cara dilakukan oleh umat Muslim di Indonesia untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Berbagai macam ritual dan tradisi Ramadhan unik pun dilakukan. Diantaranya mandi untuk mensucikan diri, menziarahi makam kerabat serta leluhur sampai tradisi memukul bedug. Namun ternyata bukan hanya Indonesia yang memiliki tradisi menyambut datangnya bulan puasa, beberapa negara lainnya juga memiliki tradisi unik yang hanya berlangsung saat Ramadhan akan tiba.

Jepang
Dalam menyambut datangnya bulan puasa, umat Muslim Jepang akan saling berbagi kebahagiaan dengan saudaranya sesama Muslim. Islamic Centre Jepang misalnya, telah membentuk semacam panitia Ramadhan yang bertugas menyusun kegiatan selama bulan puasa, mulai dari dialog keagamaan, majelis taklim, shalat tarawih berjamaah, penerbitan buku-buku keislaman dan segala hal yang terkait dengan pelaksanaan ibadah puasa. Panitia juga menerbitkan jadwal puasa dan mendistribusikannya ke rumah-rumah keluarga Muslim maupun ke Masjid-Masjid. Jadwal puasa ini juga dibagikan ke restoran-restoran halal di seantero Jepang. Panitia ini mulai bekerja ketika telah muncul hilal dan berakhir pada saat Idul Fitri. Jika tidak nampak hilal tanda awal puasa dimulai, maka panitia mengikuti ketetapan hilal Malaysia, negara Muslim terdekat.

Mesir

Umat Muslim di Kairo, Mesir memiliki tradisi unik untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Mereka akan memasang lampu tradisional di setiap rumah yang disebut dengan lampu Fanus. Oleh karena itu, banyak warga Kairo yang berbondong-bondong berbelanja lampu saat menjelang bulan Ramadhan tiba. Tradisi semacam ini telah dimulai sejak lama yakni dari zaman Dinasti Fattimiyah. Ketika itu lampu Fanus dipasang untuk menyambut kedatangan pasukan Raja yang datang berkunjung menjelang datangnya bulan Ramadhan.

Palestina

Selain di Mesir, tradisi menyalakan lampu ketika datang bulan Ramadhan juga dimiliki oleh warga Palestina. Setap bulan Ramadhan tiba, mereka akan memasang lampu Ramadhan ini di masing-masing rumah dan di sepanjang kota.

Nigeria

Berbeda dengan Nigeria, negara Afrika ini memiliki kebiasaan yang berbeda. Mereka akan menyambut datangnya bulan puasa dengan cara berdakwah. Mereka akan pergi secara berombongan ke seluruh pelosok negeri untuk menyiarkan Islam.

Irak

Lain halnya dengan di Baghdad, Irak. Umat Muslim disana akan menyambut datangnya bulan Ramadhan dengan berbelanja di pasar Shorja (pasar tertua di Irak). Dimana pasar ini hanya ramai ketika datang bulan puasa dan waktu buka pasar hanya dari sore hari sampai menjelang malam. Banyak barang dagangan unik yang dapat dijumpai di pasar ini, diantaranya jajanan untuk menu buka puasa sampai perlengkapan pendukung ibadah lainnya.

Prancis

Di Prancis tepatnya di Couronne, dimana daerah ini banyak didiami oleh imigran asal Arab, juga ada tradisi berbelanja berbagai macam pernak pernik untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dan jalan Pierre Tumbot lah yang paling terkenal ramai yang menjual berbagai macam pernak pernik tersebut.

Italia

Sementara di Roma, Italia, walaupun mayoritas warga kota ini bukanlah umat Muslim, kota ini juga mempunyai tradisi unik menyambut bulan suci Ramadhan. Ketika Ramadhan tiba, banyak panganan khas yang memiliki cita rasa manis serta kurma juga dapat ditemukan dengan mudah. Selain itu di La Grande Mosche (Masjid Agung di Roma) aktifitas menyambut datangnya bulan puasa akan nampak sekali.

Austria

Menjelang bulan suci Ramadhan, umat Muslim di negara kelahiran Alfred Riedl ini biasanya menggelar kampanye pengumpulan paket lebaran untuk keluarga miskin dan hadiah lebaran untuk anak-anak yatim piatu di Palestina. Kampanye ini dikordinir oleh organisasi kemanusiaan Palestina yang ada di Austria. Kampanye yang diberi nama Feeding Fasting Palestinians ini mendapat sambutan positif dari umat Muslim Austria. Mereka berlomba-lomba mengeluarkan sebagian hartanya untuk saudara seiman mereka di Palestina. Untuk menyebarluaskan kampanye bantuan bagi warga Palestina ini, warga Muslim Austria menggunakan berbagai cara, seperti penyebaran poster, pemasangan iklan dan jasa pos. Semua bantuan nantinya akan dikirimkan melalui lembaga-lembaga sosial yang beroperasi di wilayah Palestina.

Albania

Negara lainnya di Eropa yakni Albania juga memiliki tradisi tersendiri guna menyambut datangnya bulan puasa. Setiap datang bulan Ramadhan mereka akan menggelar kesenian yang dinamakan dengan Lodra. Kesenian ini mirip dengan tradisi memukul bedug di Nusantara. Namun yang membedakan, kesenian beduk Lodra Albania ini menggunakan dua buah tabung dimana masing-masing menggunakan kulit kambing dan domba. Pemukulnya sendiri menggunakan dua buah stik yang berbeda sebagai alat pemukulnya sehingga akan menghasilkan dua jenis suara yang berbeda pula. Inilah yang membuat beduk Albania ini khas dibanding beduk di negara kita. Lodra akan dikombinasikan dengan perkusi serta alat tiup lainnya, sehingga Lodra nampak mirip dengan iringan musik marching band. Seniman Lodra terkadang juga diundang khusus untuk mengiring sahur atau biasa disebut dengan Syfyr dan buka puasa atau Iftar.

http://al-teko.blogspot.com/2011/07/tradisi-menyambut-bulan-ramadhan-di.html

This post was made using the Auto Blogging Software from WebMagnates.org This line will not appear when posts are made after activating the software to full version.

View the Original article

Sabtu, 30 Juli 2011

Sokushinbutsu, Tradisi Memumifikasi Diri Oleh Para Biksu

type='html'>
Ribuan tahun yang lalu, biksu Shugendo atau disebut juga Sokushinbutsu menjalankan praktek mem-mumifikasi diri sendiri dimana para bhikshu ini menyiksa diri sendiri bertahun-tahun lamanya sampai dirinya mati dalalam keadaan yang bahkan ulat dan serangga pun tidak sanggup untuk memakannya. Proses ini terdiri dari 3 tahap yang masing-masing tahap lamanya 1000 hari.


1000 hari di tahap pertama adalah dimana sang bhiksu hanya memakan kacang-kacangan dan buah berry yang didapati di sekitar hutan dan ditambah dengan olahraga keras yang fungsinya akan menguras lemak-lemak pada badan mereka.

1000 hari di tahap kedua sang bhiksu hanya memakan akar-akaran dari pohon pinang dimana di tahap kedua ini sang bhiksu akan berubah seperti tengkorak karena sangat kurusnya.


1000 hari tahap terkahir adalah dimana sang bhiksu sudah mulai meminum teh yang terbuat dari zat-zat pohon yang beracun. Meminum teh ini akan mengakibatkan mereka muntah, berkeringat, dan lainnya yang bertujuan mengeluarkan semua cairan tubuh sang bhiksu.

Tetapi yang lebih penting lagi adalah agar setelah mati cairan di badannya akan mengeluarkan racun yang akan mematikan semua ulat maupun serangga yang mencoba memakan badannya. Dengan demikian mayat sang bhikshu akan menjadi mumi yang bersih dan tidak hancur oleh ulat-ulat pemakan bangkai.


Di tahap ketiga inilah para bhikshu tersebut akan masuk ke dalam gua yang sangat sempit yang hanya cukup untuk duduk bersila. Mereka masuk dengan membawa bel dan setiap hari mereka akan membunyikan bel yang menandakan bahwa mereka masih hidup. Setelah bel tersebut tidak berbunyi lagi, maka gua tersebut akan disegel dan sang bhiksu dianggap telah mencapai kesempurnaan.


Praktek para bhiksu ini sudah dilarang di Jepang semenjak akhir abad ke 18. Diperkirakan ratusan bhiksu yang melakukan hal memumifikasi diri sendiri, tetapi hanya sekitar 16-24 Mumi Sokushinbutsu yang ditemukan. Walaupun praktek ini telah dilarang secara hukum, pada bulan Juli 2010 masih ditemukn Sokushinbutsu yang terbaru di Tokyo.(Tempointeraktif)

Check It Out

Mohon Di Like Dulu
Follow Juga Ya

This post was made using the Auto Blogging Software from WebMagnates.org This line will not appear when posts are made after activating the software to full version.

View the Original article
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls