Tampilkan postingan dengan label Asteroid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asteroid. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juli 2011

Inilah Perbedaan Antara Asteroid, Komet dan Meteorid

type='html'>Menurut Near Earth Object Program NASA, asteroid merupakan benda berbatu yang ukurannya relatif kecil, tidak aktif, dan mengorbit Matahari.



Komet, juga berukuran relatif kecil namun kadang merupakan sebuah benda aktif yang menguapkan es yang ia miliki saat terkena sinar matahari dan membentuk atmosfir (coma) yang terdiri dari debu dan gas. Terkadang, karena komet bergerak cukup cepat, ia membentuk ekor yang terdiri dari debu dan atau gas.



Meteoroid sendiri merupakan partikel kecil yang terlepas dari komet ataupun asteroid. Dari ketiganya, asteroid merupakan benda yang paling menarik untuk dipelajari para ilmuwan.



Seperti diketahui, sampai sejauh ini, ilmuwan belum bisa memahami sepenuhnya bagaimana kehidupan awal terbuat dari zat organik yang tidak hidup, bisa tumbuh dan berkembang di Bumi. Dengan mempelajari asteroid, kita bisa mengetahui lebih banyak.

Dilansir Fox News, asteroid seperti 2 Pallas dan 10 Hygiea, yang diyakini pernah memiliki air, tampak memiliki senyawa organik (berbasis karbon) di dalamnya.

“Saat ini, asteroid tersebut memiliki komposisi kimia yang lebih primitif dibandingkan dengan Bumi. Kondisinya serupa dengan saat tata surya kita saat masih baru terbentuk,” kata Carol Raymond, Deputy Principal Investigator NASA.

“Dengan mempelajarinya, kita bisa mengetahui bagaimana kehidupan bisa muncul di planet ini,” ucapnya.

Raymond menyebutkan, ada beberapa kondisi yang menjadikan Bumi sangat kondusif bagi kehidupan di masa lalu. “Selain itu, ilmuwan berpendapat bahwa asteroid yang mendarat di Bumi pada zaman dahulu kala, telah memberikan materi pembentuk yang membantu memulai kehidupan di planet ini,” ucapnya.

source

View the Original article

Minggu, 03 Juli 2011

Empat Astronom Indonesia Jadi Nama Asteroid

Bandung - International Astronomical Union menyematkan empat nama astronom dari Indonesia pada empat buah asteroid. Keempat nama itu diambil dari para mantan Direktur Observatorium Bosscha, Lembang, Bandung, Jawa Barat. "Penamaan asteroid ini baru sekarang memakai nama orang Indonesia,"kata Direktur Observatorium Bosscha Hakim L Malasan saat dihubungi Tempo, Kamis (13/1).

International Astronomical Union pada November tahun lalu mengumumkan 64 nama baru bagi asteroid, empat diantaranya bernama orang Indonesia. Sebelumnya, asteroid itu hanya diberi angka saja. Empat asteroid tersebut ditemukan peneropong langit C. J. van Houten and I. van Houten-Groeneveld pada 16 Oktober 1977.

Asteroid bernomor (12176) Hidayat = 3468 T-3, mengambil nama Bambang Hidayat, 76 tahun, mantan Direktur Observatorium Bosscha pada 1968-1999. Ia juga mantan Wakil Presiden International Astronomical Union 1994-2000. Asteroid (12177) Raharto = 4074 T-3, berasal dari nama astronom Moedji Raharto, 56 tahun, bekas Direktur Observatorium Bosscha selama 2000-2003.

Adapun (12178) Dhani = 4304 T-3, berasal dari Dhani Herdiwijaya, 47 tahun, mantan Direktur Observatorium Bosscha periode 2004-2005. Sedangkan nama Direktur Observatorium Bosscha 2006-2009 Taufik Hidayat disematkan untuk asteroid (12179) Taufiq = 5030 T-3.

Menurut Malasan, lembaga astronomi dunia itu berwenang memberikan nama asteroid tidak hanya dari nama penemunya saja, tapi juga bagi astronom lain. Bagi Observatorium Bosscha, penyematan nama itu membanggakan karena penghargaan itu sebagai salah satu bentuk apresiasi terhadap keberadaan dan upaya Bosscha dalam dunia pengamatan langit, khususnya langit selatan.

“Reputasi Bosscha di internasional diakui dan dikenal. Ini juga menjadi dorongan untuk kaum muda hunting asteroid,ujarnya. Diperkirakan, besaran keempat asteroid yang dinamai astronom Indonesia itu, kata Malasan, rata-rata berukuran 1-1,5 kilometer.

Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan, asteroid yang saat ini lebih dikenal sebagai planet minor banyak terdapat di antara planet Mars dan Jupiter. Namun banyak juga yang mengorbit dekat bumi.

Menurut Djamaluddin, Bosscha tercatat sebagai observatorium pertama di dunia untuk peneropongan langit selatan. Kebanyakan selama ini observatorium berada di bagian utara. "Di selatan relatif sedikit karena daratannya lebih kecil dari lautan," katanya.

sumber : ANWAR SISWADI tempo


View the Original article
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls